Friday, January 16, 2026
HomeLainnyaAI Dual-Use Buka Risiko Manipulasi dan Serangan Siber

AI Dual-Use Buka Risiko Manipulasi dan Serangan Siber

Pada Konferensi Mahasiswa Pascasarjana Internasional (IPGSC) yang digelar Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia pada 23–24 Oktober 2025, isu tentang kecerdasan buatan (AI), geopolitik, dan ancaman dunia maya menjadi perhatian utama. Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, berkesempatan mewakili Menteri Komunikasi dan Digital untuk membawakan pidato kunci yang menyoroti tantangan di era digital ini.

Ia menjelaskan bahwa di tengah transformasi teknologi digital yang berlangsung begitu pesat, data serta algoritma kini merupakan aset strategis, bahkan telah menjadi tulang punggung kekuatan global. Peran AI meluas, tidak hanya membentuk ekonomi dan sosial, tapi juga menjadi alat penting dalam persaingan antarnegara di panggung global.

AI sebagai Faktor Pergeseran Dominasi Teknologi Dunia

Dalam pidatonya, Raden Wijaya mengambil contoh DeepSeek dari Tiongkok yang secara signifikan mengguncang dominasi perusahaan AI Barat. Dengan investasi sebesar 6,5 juta USD, DeepSeek mampu membawa perubahan drastis pada valuasi pasar AI global, menjadi 969 juta USD dari sebelumnya sekitar 1 miliar USD. Hal ini menandakan dinamika persaingan dan evolusi ekosistem teknologi global semakin intens dan tidak mudah diprediksi.

Ia juga mengungkapkan bahwa konflik berkepanjangan, seperti antara Iran-Israel dan perang Rusia-Ukraina, turut memperlihatkan skala penggunaan AI pada pertahanan, analisis data intelijen, serta pengembangan sistem otonom dalam peperangan. Sifat ganda (dual-use) AI, hubungan eratnya dengan bisnis microchip, dominasi dalam penentuan standar global, serta potensi menciptakan ketergantungan teknologi, menjadi alasan utama mengapa AI telah menjadi isu sentral dalam politik global saat ini.

Perkembangan Ancaman Siber di Era Digital: Risiko dan Fenomena Baru

Raden Wijaya juga menyoroti karakter ancaman siber yang kian berkembang dan kompleks, melampaui batas negara dan memiliki asosiasi dual-use. Teknologi digital yang awalnya berfungsi untuk menopang kehidupan sipil kini sering disalahgunakan untuk kepentingan ofensif, tidak hanya oleh negara, tapi juga kelompok non-negara.

Menurutnya, dualisme ancaman siber terlihat pada pemanfaatan infrastruktur digital, perangkat lunak mutakhir, algoritma cerdas, dan layanan cloud yang dapat beralih fungsi, dari memperkuat sektor sipil menjadi alat penetrasi dan sabotase jaringan atau operasi intelijen. Negara-negara dan kelompok kejahatan siber seperti kriminal, hacktivis, serta organisasi bersenjata sama-sama menggunakan teknologi ini untuk manipulasi, peretasan, dan bahkan serangan terhadap layanan dasar publik.

Ancaman siber juga bersifat asimetris: negara besar bisa melancarkan serangan presisi pada infrastruktur penting lawan, sementara kelompok kecil dengan modal terbatas pun bisa merusak sistem lewat malware, botnet, atau eksploitasi celah keamanan seperti zero-day. Situasi ini menjadikan ranah digital sebagai ajang persaingan yang sangat terbuka untuk pelaku kecil maupun raksasa teknologi.

Ambiguitas serta kesukaran dalam atribusi serangan memperumit penanganan ancaman ini. Banyak serangan dilakukan melalui perantara, dari kelompok kriminal hingga konsultan teknologi independen, sehingga identifikasi pelaku asli menjadi rumit. AI mempercepat dinamika ini; selain otomatisasi serangan, AI mendukung penciptaan konten manipulatif dan menemukan celah keamanan dengan tingkat kecermatan tinggi.

Desinformasi dan operasi informasi juga sangat bergantung pada AI generatif. Kecerdasan buatan memungkinkan penciptaan propaganda dan penyebaran informasi palsu secara masif, baik oleh negara maupun kelompok non-negara, untuk mempengaruhi persepsi publik, menggoyahkan stabilitas domestik, atau merusak legitimasi institusi negara.

Ancaman siber, ditegaskan Raden Wijaya, kini bukan sekadar masalah teknis, namun juga tantangan strategis yang menguji kedaulatan digital, keamanan nasional, sekaligus kestabilan politik Indonesia. Oleh sebab itu, diperlukan penguatan ketahanan siber, pembangunan instrumen penangkal yang efektif, serta ekosistem talenta digital agar penguasaan teknologi tetap berada di tangan bangsa sendiri.

Pertarungan Kedaulatan Digital Indonesia di Tengah Sebaran AI Global

Raden Wijaya mengingatkan bahwa dalam menghadapi kompetisi global AI, Indonesia tak hanya harus mendorong inovasi teknologi, melainkan juga memperkokoh fondasi keamanan. Investasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia digital, riset AI, pembangunan infrastruktur microprosesor domestik, dan perlindungan sistem vital menjadi kunci tercapainya kedaulatan digital nasional.

Menutup pidatonya, beliau menekankan bahwa keberhasilan di masa depan tak semata-mata bergantung pada kemampuan menciptakan teknologi paling canggih. Lebih dari itu, bangsa yang akan unggul adalah yang mampu mengelola, mengamankan, dan mempertahankan teknologi tersebut sebagai instrumen strategis demi kepentingan nasional Indonesia.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global

RELATED ARTICLES

Terpopuler