Ford mengumumkan penarikan Lightning-model truk pickup listrik terlaris mereka dengan rencana untuk beralih kembali ke mesin bensin dan mobil hibrida. Keputusan ini, yang tampaknya mengejutkan banyak orang di industri otomotif, mengakhiri harapan Ford untuk masa depan listrik. Sebelumnya, Ford telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyoroti pentingnya mobilitas listrik. Namun, dengan pengumuman terbaru ini, perusahaan tampaknya kembali ke bensin.
Memang, kerugian dari Model E Ford sebelumnya mencapai $19 miliar, terutama karena proyeksi penjualan Lightning yang tidak tercapai dan harga truk yang tetap tinggi meskipun janji untuk menjualnya dengan harga dasar $40.000. Keputusan Ford untuk membatalkan berbagai model sedan dan hatchback sebelumnya juga terasa familiar, karena kini perusahaan harus bersaing dengan kompetitor asal Korea dan Jepang yang telah menguasai pasar mobil kecil dan listrik.
Dengan Ford kembali ke bensin, terjadi penarikan dari arena mobil listrik terjangkau dan jangkauan jarak jauh, di mana Ford tampaknya membatalkan rencananya untuk crossover listrik tiga baris dan melihat masa depannya bergantung pada Ford Universal EV Platform. Namun, kekhawatiran muncul apakah platform EV revolusioner Ford akan benar-benar terwujud atau tidak.
Kritik juga ditujukan kepada Ford karena tidak berinovasi sebagaimana produsen mobil lainnya, jika dibandingkan dengan langkah General Motors yang memperkenalkan jajaran mobil listrik mereka di jalan raya dan semakin sukses. Dengan pasar mobil China yang semakin dominan, Ford nampaknya mundur dari persaingan ini dan mempertaruhkan masa depan platform EV mereka. Seperti yang diungkapkan dalam pembicaraan CEO Ford Jim Farley, bisnis, teknologi, dan manufaktur dalam industri otomotif merupakan elemen yang penting untuk meraih kesuksesan. Namun, Ford kini terlihat ragu-ragu dalam menghadapi persaingan dari produsen mobil China yang semakin memperluas jangkauan produk mobil listrik dan hibrida mereka.
Melalui keputusan ini, Ford tampaknya kembali ke pembakaran internal, meninggalkan mobil listrik dan jarak jauh yang semakin diminati oleh konsumen. Meskipun permintaan mobil listrik lebih rendah dari ekspektasi, tindakan Ford untuk kembali ke bensin dapat dipertanyakan, terutama di tengah kekhawatiran global akan isu lingkungan dan keberlanjutan. Kini, langkah Ford ke depan sangat dinantikan untuk melihat apakah platform EV barunya dapat mengantisipasi apa yang diinginkan oleh pasar dan memperbaiki posisi Ford dalam persaingan industri otomotif yang semakin ketat.


