Wednesday, January 21, 2026
HomeSahamAnalisis Tarif Dagang dan Suku Bunga The Fed di Bursa Saham 2025

Analisis Tarif Dagang dan Suku Bunga The Fed di Bursa Saham 2025

Menurut Ashmore, ketidakpastian mengenai risiko jangka panjang dapat menyebabkan imbal hasil jangka panjang tetap tinggi, terutama dalam konteks stabilitas mata uang dan keseimbangan fiskal. Bank Indonesia terlihat lebih independen namun perhatiannya terhadap mata uang semakin meningkat. Meskipun demikian, prospek penurunan suku bunga kebijakan dan imbal hasil masih cukup kuat.

Selain itu, kualitas juga menjadi faktor kritis dalam menghadapi kondisi makroekonomi yang tidak stabil, dengan neraca dan pendapatan yang kuat. Return risiko yang disesuaikan dari MSCI Indonesia Value masih menunjukkan kinerja di atas indeks MSCI Indonesia Growth. Meskipun pasar ekuitas mengalami tantangan sejak kuartal kedua 2025, analis yakin bahwa titik terendah sudah terlewati dan memproyeksikan pertumbuhan laba sebesar 12% tahun depan.

Dalam situasi saat ini, Ashmore tetap berhati-hati dalam memilih baik obligasi maupun saham. Risiko durasi dinilai lebih menarik dibanding risiko kredit karena obligasi pemerintah masih menawarkan potensi yang menggoda. Berdasarkan pertimbangan tersebut, kecenderungan lebih kepada saham berkualitas dengan fundamental yang kuat untuk mendukung pertumbuhan, tetapi tetap selektif pada eksposur siklikal yang memiliki potensi kenaikan.

Meskipun masih ada potensi kenaikan bagi obligasi, Ashmore menyarankan agar investor mempertimbangkan untuk meningkatkan alokasi ke saham. Hal ini disebabkan oleh prospek pertumbuhan pendapatan tahun depan yang didukung oleh valuasi yang positif, yang dapat membawa potensi pengembalian lebih tinggi bagi investor.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler