Bullying adalah tindakan intimidasi, penindasan, dan kekerasan yang dapat terjadi baik lewat ucapan maupun tindakan fisik. Meskipun biasanya dikaitkan dengan lingkungan sekolah, pergaulan, atau media sosial, bullying juga bisa terjadi di rumah, bahkan tak jarang dilakukan oleh orang tua terhadap anak tanpa disadari. Berbagai penelitian mengungkap bahwa perilaku bullying dari orang tua terhadap anak memiliki dampak yang sangat menyakitkan bagi anak.
Salah satu bentuk bullying yang sering terjadi adalah memberi julukan negatif kepada anak, seperti memanggil dengan sebutan yang menyinggung fisik atau kekurangannya. Tindakan ini bisa membuat anak merasa minder dan kehilangan rasa percaya diri. Selain itu, body shaming yang dibungkus dalam humor juga termasuk bentuk bullying, misalnya dengan mencandaikan bentuk tubuh anak. Hal ini bisa melukai perasaan anak dan menurunkan rasa percaya dirinya.
Ancaman dan pemaksaan terhadap anak juga termasuk bullying verbal yang sering terjadi di rumah. Pola asuh yang terlalu agresif, seperti melontarkan cacian, membentak, atau menghukum secara berlebihan juga merupakan bentuk intimidasi emosional yang dapat merusak kondisi kesehatan mental anak. Membandingkan anak dengan orang lain dan menuntut anak mengikuti standar orang tua juga bisa membuat anak merasa rendah diri dan kehilangan kepercayaan diri.
Bullying di rumah memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan mental anak, mulai dari rasa rendah diri hingga depresi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperbaiki cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak. Mendengarkan dan menghargai pendapat serta perasaan anak dapat membantu mencegah terjadinya bullying di rumah dan membentuk hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.


