Grup MiniMax, sebuah perusahaan rintisan artificial intelligence (AI) dari China, mengalami lonjakan saham dua kali lipat pada hari pertama perdagangan di Bursa Hong Kong. Hal ini terjadi pada Jumat, 9 Januari 2026, ketika MiniMax mencatatkan sahamnya dan menjadi perusahaan pengembang model AI kedua asal China yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dana sebesar 4,8 miliar dolar Hong Kong atau sekitar USD 620 juta berhasil dikumpulkan MiniMax melalui IPO tersebut, yang setara dengan sekitar Rp 10,44 triliun. Dengan penutupan saham naik 109% menjadi 345 dolar Hong Kong dari harga perdana 165 dolar Hong Kong, MiniMax menunjukkan kinerja yang mengesankan.
Perusahaan rintisan AI China lainnya yang juga terdaftar di Hong Kong, Zhipu AI, juga mencatatkan kenaikan 13% saat debut perdagangan. MiniMax dan Zhipu dikenal sebagai perusahaan AI China yang kuat, mengembangkan kecerdasan buatan untuk bersaing dengan raksasa AI Amerika Serikat seperti OpenAI. MiniMax, yang berdiri sejak tahun 2022 dan didukung oleh investor terkemuka seperti grup Alibaba dan Tencent Holdings, fokus pada pengembangan aplikasi AI seperti chatbot, dan pembuatan gambar dan video.
Debut MiniMax di pasar saham terjadi di tengah upaya perusahaan AI China untuk mengumpulkan dana lebih banyak guna bersaing dengan pesaing AS, serta menghadapi pembatasan ekspor chip canggih dari AS yang digunakan untuk pelatihan AI di Tiongkok. Berdasarkan laporan perusahaan, MiniMax melayani lebih dari 200 juta pengguna dari lebih dari 200 negara dan wilayah pada bulan September tahun sebelumnya. Meskipun berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD 53,4 juta dalam sembilan bulan terakhir hingga September 2025, dengan peningkatan sebesar 174% dari tahun sebelumnya, MiniMax masih melaporkan kerugian bersih sebesar USD 512 juta pada periode yang sama. Kisah sukses grup MiniMax dan tantangannya di pasar AI semakin menarik minat dunia terhadap inovasi teknologi yang terus berkembang pesat.


