Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menurut analis pasar modal dan Founder Stocknow.id Hendra Wardana mempengaruhi pergerakan IHSG secara psikologis. Pelemahan rupiah diinterpretasikan investor sebagai peningkatan risiko makro terutama terkait stabilitas eksternal dan arus modal asing. Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah memengaruhi sentimen investor asing yang dapat mengakibatkan aksi jual. Meskipun fundamental banyak emiten belum menunjukkan penurunan kinerja, tetapi IHSG rentan terkoreksi akibat faktor tekanan rupiah dan volatilitas global.
Hendra mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah terjadi saat dolar AS global melemah, hal ini menjadi anomali yang perlu diperhatikan. Menurut teori, pelemahan dolar AS seharusnya memicu aliran dana masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia sehingga mata uangnya menguat. Namun, faktor domestik di Indonesia lebih dominan daripada sentimen global, seperti kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan dan kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar. Investor asing menjadi lebih selektif dalam berinvestasi di Indonesia karena risiko kebijakan ke depan.
Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, pelemahan rupiah terjadi karena kombinasi faktor domestik dan preferensi risiko investor. Negara-negara tetangga tersebut dianggap memiliki stabilitas eksternal yang lebih kuat, cadangan devisa yang solid, dan kebijakan moneter yang konsisten. Oleh karena itu, pelemahan rupiah Indonesia bukan hanya dipengaruhi oleh dolar AS tetapi juga oleh faktor domestik dan preferensi risiko investor.


