Demonstrasi menolak Pilkada melalui DPRD di Banjarmasin telah menimbulkan kerusuhan antara mahasiswa dan aparat keamanan pada Kamis (15/1/2026). Sebanyak tiga orang dilarikan ke rumah sakit, satu orang mengalami pendarahan hidung, dan satu orang mengalami kaki pincang diduga karena tindakan represif dari aparat kepolisian. Kejadian ini memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa yang menuntut pertanggungjawaban dari pihak terkait.
Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Adi Jayadi, menegaskan bahwa Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, dan Ketua DPRD Kalsel, H Supian HK, harus bertindak atas kondisi yang dialami mahasiswa. Mahasiswa meminta agar pada aksi selanjutnya tidak terjadi kekerasan yang sama. Mereka memberikan waktu 2-3 hari bagi pihak terkait untuk menyampaikan sikapnya kepada media.
Aliansi BEM se-Kalsel akan berkonsolidasi kembali terkait demonstrasi menolak Pilkada melalui DPRD dengan tuntutan yang sama. Ketidakhadiran Ketua DPRD Kalsel dalam aksi demonstrasi sebelumnya karena sedang melaksanakan reses membuat mahasiswa menuntut sikap dari pihak terkait. Jadwal aksi selanjutnya akan diatur agar tidak bertabrakan dengan agenda wakil rakyat.
Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam Banjarmasin menegaskan bahwa mahasiswa akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih banyak. Mereka berencana untuk hadir dalam jumlah yang lebih besar pada aksi selanjutnya.


