Selama beberapa tahun terakhir, siklus empat tahunan Bitcoin telah menjadi patokan utama bagi para pelaku pasar kripto. Siklus ini terkait erat dengan peristiwa halving, yaitu pemotongan imbalan penambangan Bitcoin yang terjadi setiap sekitar 210 ribu blok. Setiap halving telah memicu guncangan pasokan yang sering kali diikuti oleh reli harga besar, namun akhirnya diikuti oleh fase koreksi atau pasar bearish. Namun, dalam dinamika pasar saat ini, muncul pertanyaan besar mengenai relevansi siklus empat tahunan Bitcoin.
Beberapa analis berpendapat bahwa pengaruh halving terhadap pergerakan harga Bitcoin semakin melemah. Pada awalnya, ketika pasokan Bitcoin masih tinggi, setiap pemangkasan imbalan penambangan memberikan dampak besar pada pasar. Namun, setelah halving pada April 2024, tingkat penerbitan Bitcoin per tahun turun drastis menjadi di bawah 1%. Hal ini berarti guncangan pasokan yang tercipta menjadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Hal ini juga berdampak pada kekuatan reli Bitcoin dalam setiap siklus yang terlihat semakin menurun, dengan puncak harga pada setiap siklus selalu lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya.
Menariknya, pada halving terakhir, Bitcoin bahkan mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa sebelum peristiwa tersebut terjadi, tidak seperti pola klasik yang biasanya mengalami lonjakan harga beberapa bulan setelah halving. Perlu diingat bahwa segala keputusan investasi ada di tangan pembaca, sehingga penting untuk melakukan pembelajaran dan analisis sebelum melakukan transaksi kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang mungkin timbul akibat keputusan investasi.


