Pembahasan tentang kesehatan pria saat ini telah berkembang dari sekedar performa seksual menjadi isu kualitas hidup secara menyeluruh. Salah satu faktor penting yang sering kali diabaikan adalah keseimbangan hormon, terutama testosteron, yang memiliki peran signifikan dalam metabolisme, kesehatan mental, dan risiko penyakit kronis. Seiring bertambahnya usia, perubahan hormon dapat mempengaruhi berbagai aspek seperti energi, stabilitas emosi, dan kemampuan berpikir jernih.
Menurut data dari World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD), penyakit kardiovaskular (CVD) menjadi salah satu penyebab utama kematian global, dengan angka yang cukup tinggi. Founder Klinik Pratama Steros, dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), menjelaskan bahwa penurunan hormon testosteron dapat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Testosteron bukan hanya berperan dalam reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Androlog dan seksolog, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, menekankan bahwa proses penuaan ternyata berkaitan erat dengan perubahan hormon yang dimulai sejak usia muda. Faktor internal dan eksternal juga dapat mempengaruhi proses penuaan, dimana ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, dan kebiasaan buruk termasuk di dalamnya. Secara medis, penurunan hormon pada pria dapat terbagi dalam tiga fase, dimulai dari usia 25 tahun hingga usia 45 tahun ke atas.
Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan hormon terutama testosteron, pria dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mengurangi risiko terkena berbagai penyakit kronis. Menjaga gaya hidup sehat, pola makan yang baik, dan mengelola stres dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan secara keseluruhan. Kesadaran akan pentingnya peran hormon dalam kesehatan pria semakin memperkuat urgensi untuk menjaga keseimbangan hormonal dengan baik.


