Prilly Latuconsina, aktris terkenal Indonesia, memilih untuk mengaktifkan status “Open to Work” di akun LinkedIn pribadinya pada akhir Januari 2026. Keputusan ini memicu perdebatan di media sosial, terutama di tengah kondisi pasar kerja yang sedang sulit. Prilly menegaskan bahwa keputusannya tidak terkait dengan kurangnya pekerjaan di industri hiburan, melainkan sebagai bentuk eksplorasi diri setelah mundur dari perusahaan produksi yang ia dirikan. Respons publik terhadap langkahnya ini sangat cepat, dengan ribuan permintaan koneksi dan tawaran kerja dari berbagai latar belakang profesional.
Prilly mulai menjalani pekerjaan paruh waktu di sektor non-hiburan, seperti riset pasar dan promosi produk, serta merasakan rutinitas kerja kantoran, termasuk menggunakan KRL pada jam sibuk di Jakarta. Namun, aktivitas terbarunya sebagai sales promosi pasta gigi menuai kritik tajam dari sejumlah warganet. Mereka menilai langkah ini sebagai strategi pencitraan dan kurang peka sosial, terutama di tengah situasi yang sensitif dalam pasar kerja.
Status “Open to Work” yang digunakan Prilly di LinkedIn dipandang sebagai simbol kecemasan ekonomi dan ketidakpastian karier bagi sebagian masyarakat. Kritik semakin menguat karena Prilly dinilai memiliki keamanan finansial yang kuat, sementara puluhan ribu peluang dan koneksi mudah didapatnya berkat popularitas dan nama besar yang dimilikinya. Hal ini mencerminkan ketimpangan nyata di pasar kerja, di mana akses dan jejaring seringkali lebih menentukan daripada kualifikasi.


