PT Kagum Teknologi Indonesia (Ajaib) dipimpin oleh Direktur Utama Adrian Sudirgo mengakui bahwa perubahan biaya transaksi merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam dinamika industri yang terus berkembang. Adrian juga menegaskan bahwa penyesuaian struktur biaya merupakan strategi penting dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri tersebut. Tujuannya adalah agar konsumen dapat merasakan manfaat yang lebih baik dan mendorong pertumbuhan industri yang lebih sehat.
Bursa Kripto CFX, yang dipimpin oleh Direktur Utama Subani, melakukan penurunan biaya transaksi dengan tujuan meningkatkan daya saing industri kripto di Indonesia. Subani menjelaskan bahwa perbedaan biaya transaksi antara platform berizin OJK dan yang tidak berizin menjadi faktor yang mendorong aliran dana keluar negeri. Dengan menjadi pionir bursa aset kripto berizin di Indonesia, CFX berusaha untuk terus mendengarkan kebutuhan konsumen dan anggotanya. Penurunan biaya tidak hanya untuk menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif, tetapi juga untuk memperluas pangsa pasar mereka.
Data dari OJK menunjukkan bahwa nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 482,23 triliun sepanjang tahun 2025, dengan jumlah konsumen mencapai 12,92 juta. Indonesia sendiri menduduki peringkat ketujuh dunia dalam tingkat adopsi aset kripto menurut laporan Global Crypto Adoption Index 2025 yang dikeluarkan oleh Chainalysis.
Dalam mengambil keputusan investasi, pembaca diharapkan untuk melakukan pembelajaran dan analisis yang matang sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang diambil oleh pembaca.


