Wednesday, April 15, 2026
HomeCryptoPenguat Bitcoin di Tengah Risiko Perang: Alasan dan Peluang

Penguat Bitcoin di Tengah Risiko Perang: Alasan dan Peluang

Menurut Arthur Hayes, pendiri BitMEX, keterlibatan militer Amerika Serikat (AS) dengan Iran dapat berdampak positif terhadap Bitcoin dalam jangka panjang. Dalam esainya yang terbit pada 2 Maret, Hayes menyatakan bahwa setiap operasi militer besar AS di Timur Tengah selama empat dekade terakhir selalu diikuti dengan penurunan suku bunga atau pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve (The Fed). Contoh terkini adalah saat presiden AS meluncurkan serangan di wilayah tersebut, yang kemudian diikuti oleh tindakan pelonggaran moneternya.

Pada masa Perang Teluk tahun 1990, The Fed awalnya menunda penurunan suku bunga, tetapi memberi isyarat bahwa akan mengambil langkah tersebut jika konflik terus berlanjut. Akhirnya, suku bunga dipangkas pada November dan Desember 1990, meskipun inflasi masih tinggi akibat lonjakan harga minyak. Hal serupa terjadi setelah serangan 11 September 2001, di mana Alan Greenspan, Ketua The Fed saat itu, melakukan pemangkasan suku bunga darurat untuk menjaga stabilitas pasar dan memulihkan kepercayaan. Siklus pelonggaran kebijakan juga terjadi selama perang di Irak dan Afghanistan.

Pada tahun 2009, saat Presiden Barack Obama meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan, suku bunga sudah berada di level nol dan kebijakan pelonggaran kuantitatif telah berlangsung. Hal ini menyusutkan ruang bagi penurunan suku bunga lebih lanjut. Menurut Hayes, pola ini menunjukkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi kebijakan moneter AS, dan hal ini dapat berdampak positif bagi Bitcoin dalam jangka panjang.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler