Permintaan Bitcoin Merosot ke Level Terendah, Apa yang Terjadi?
Bitcoin (Crypto:$BTC) merupakan salah satu aset kripto paling populer di dunia, namun belakangan ini, permintaannya turun drastis. Menurut data terbaru, indikator utama permintaan Bitcoin mengalami penurunan ke level terendah sejak Desember 2025.
Permintaan Bitcoin Menurun Tajam
Data yang dikutip dari Yahoo Finance menunjukkan bahwa metrik permintaan 30 hari CryptoQuant menurun menjadi minus 147.000 BTC. Angka ini merupakan yang terlemah sejak akhir tahun lalu. Metrik ini mengukur perbandingan antara pasokan penambang baru dan koin lama yang kembali beredar dengan jumlah Bitcoin yang diserap pasar.
Indikator ini menunjukkan bahwa pembeli saat ini kurang agresif dalam menyerap pasokan baru Bitcoin. Bahkan setelah Bitcoin mengalami kenaikan harga dari titik terendah, permintaan masih tetap rendah. Meskipun harga Bitcoin kini mencapai US$ 77.000 atau sekitar Rp 1,37 miliar, pasar tampak belum terlalu responsif terhadap kenaikan ini.
Dampak dan Proyeksi Harga Bitcoin
Permintaan yang melemah bukanlah sinyal baik bagi Bitcoin. Pasar saat ini lebih tergantung pada pembelian spot baru jika ingin mendorong harga Bitcoin keluar dari zona stagnan saat ini. Analyst memperkirakan bahwa Bitcoin tetap akan menghadapi resistensi di atas US$ 80.000 atau sekitar Rp 1,42 miliar.
Jika permintaan terus melemah, harga Bitcoin bahkan bisa turun hingga US$ 70.000 atau sekitar Rp 1,24 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih rentan terhadap fluktuasi harga yang signifikan.
Meskipun harga Bitcoin sempat mencapai rekor tertinggi di atas US$ 126.000 pada Oktober tahun lalu, kondisi saat ini menunjukkan bahwa performa Bitcoin belakangan ini belum optimal. Investor dan pelaku pasar kripto diimbau untuk lebih memperhatikan perkembangan terkini sebelum mengambil keputusan investasi.


