Mantan agen FBI mengungkapkan bahwa peretas asal Korea Utara semakin cerdik dalam melakukan serangan terhadap perusahaan kripto. Menurutnya, peretas tersebut memanfaatkan kerentanan dalam sistem keamanan perusahaan dan memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.
Peningkatan Ancaman Keamanan
Menurut mantan agen FBI tersebut, pembekuan aset, rujukan penegak hukum, dan pelacakan analitik sering terjadi di berbagai yurisdiksi dan standar kepatuhan yang berbeda. Hal ini membuat peretas Korea Utara semakin cerdik dalam melakukan serangannya. Hanya dengan satu perantara yang lemah, mereka dapat menjalankan kegiatan pencucian uang tanpa terdeteksi.
Namun, meskipun banyak kasus serangan terjadi, perusahaan cenderung merahasiakannya. Hal ini menyebabkan kurangnya berbagi informasi intelijen ancaman antar perusahaan, sehingga pola serangan tidak terdeteksi dengan baik oleh perusahaan lain.
Perlunya Peningkatan Keamanan
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan peningkatan proses keamanan di setiap perusahaan kripto. Tim manajemen perlu memperkuat otorisasi transaksi, perlindungan infrastruktur, dan kesadaran keamanan internal. Verifikasi formal perlu digunakan untuk memastikan validitas protokol yang digunakan dan menghilangkan kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh peretas.
Salah satu solusi yang disarankan adalah penggunaan alat analisis kontrak pintar yang dapat menjalankan “transaksi simulasi” untuk mengidentifikasi perubahan berbahaya sebelum diterapkan. Selain itu, pentingnya meningkatkan kesadaran risiko manusia juga harus ditekankan, dengan melatih karyawan untuk mengenali tanda-tanda peringatan yang dapat mengindikasikan serangan peretas.
Para pembaca diingatkan bahwa setiap keputusan investasi memiliki risiko tersendiri. Sebelum melakukan transaksi dengan kripto, ada baiknya untuk mempelajari dan menganalisis dengan cermat. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang diambil pembaca.


