Julak Larau: Menghidupkan Kembali Suaranya dari Pinggir Sawah ke Panggung Musik
Pada peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Julak Larau, sang maestro kuriding Kalimantan Selatan, mengungkapkan perjalanan panjangnya dengan alat musik tradisional Banjar.
Awal Mula Perjalanan Kuriding
Julak Larau pertama kali mendengar suara kuriding ketika sang kakek memainkannya di pinggir sawah untuk mengusir tikus. Kuriding, pada awalnya, tidak dianggap sebagai alat musik yang penting, namun lambat laun, alat musik ini mulai digunakan dalam perayaan di kampung.
Pesan Mendalam dari Kuriding
Julak Larau percaya bahwa kuriding mengajarkan kita tentang kesabaran dan mendengarkan. Ia menegaskan bahwa menjadi seorang seniman bukanlah tentang membuat bunyi paling nyaring, namun menjaga kemampuan mendengar.
Julak Larau menekankan pentingnya tidak kehilangan kemampuan dalam mendengar di tengah banyaknya suara di dunia ini. Menurutnya, musik akan terus hidup selama masih ada kesediaan untuk mendengar.
Harapan dan Pesan untuk Generasi Muda
Selain menjaga tradisi, Julak Larau juga memberikan pesan dan dorongan kepada generasi muda untuk terus berkarya tanpa melupakan akar budaya mereka. Dia percaya bahwa musik akan terus menemukan jalan hidupnya seperti Sungai Martapura.
Potensi Musik di Kalimantan Selatan
Menurut Budayawan HE Benyamine, perayaan Hari Musik Dunia di Kalsel tahun 2026 memiliki nilai yang istimewa karena pesan yang disampaikan oleh Julak Larau memberikan arti mendalam tentang musik dalam hidup.
Pelopor pelestarian kuriding ini juga berharap agar musisi lokal terus merawat identitas musik daerah mereka. Musik, sebagai bagian dari kebudayaan, harus terus diperluas ruangnya sehingga generasi muda bisa mengembangkan karya-karya musik yang beragam.


