Pentingnya kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, semakin disorot setelah Paseban Foundation merilis laporan terbaru mengenai keberhasilan perlindungan lima spesies primata terakhir di Pulau Jawa yang masih bertahan dalam satu area lanskap yang sama. Melalui upaya riset lapangan, observasi mendalam, dan pemasangan kamera jebak, Yayasan ini berhasil mendokumentasikan eksistensi primata-primata tersebut di tengah tekanan pembangunan dan aktivitas manusia yang kian masif.
Pada acara tahunan Paseban Foundation yang digelar bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional di Jakarta, pencapaian dua tahun yayasan diumumkan dengan menyorot pentingnya Megamendung sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati Pulau Jawa yang semakin langka. Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menegaskan bahwa di tengah padatnya penduduk Jawa, Megamendung menjadi saksi betapa sisa populasi satwa asli masih bisa bertahan bersama manusia.
Kehadiran lima jenis primata tersebut menguatkan posisi Megamendung sebagai pusat keanekaragaman hayati penting di wilayah dengan tekanan manusia yang paling besar di Indonesia. Tidak hanya primata, survei juga memastikan kehadiran spesies penting lain seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta ekosistem hutan pegunungan tropis yang masih relatif lengkap, mencakup beragam flora maupun fauna.
Letak geografis Megamendung yang hanya berjarak singkat dari Jakarta dan berada di zona penyangga Cagar Biosfer Cibodas membuat kawasan ini sangat strategis, namun juga rentan. Perkembangan ekonomi dan urbanisasi menjadi tantangan utama bagi kelestarian ekosistem alam. Sistem cagar biosfer menuntut keseimbangan antara pelestarian alam dengan pemanfaatan berkelanjutan, membagi kawasan menjadi zona inti yang dilindungi, zona penyangga, serta zona interaksi masyarakat.
Ekosistem Megamendung adalah hasil pertemuan berbagai unsur: hutan alam, jalur air, ruang gerak satwa, lahan pertanian, hingga permukiman—semua saling berkaitan erat. Satwa liar memerlukan habitat yang utuh, vegetasi yang beragam, dan jaringan air yang sehat untuk bertahan hidup. Wiratno, selaku penasihat yayasan, mengingatkan bahwa batas administratif buatan manusia tidak dapat membatasi aliran air maupun pergerakan satwa liar yang selalu mengikuti kebutuhan hidupnya.
Karena itu, solusi konservasi yang diusung Passeban Foundation bersifat kolaboratif, mengajak sinergi antara pemerintah, swasta, komunitas lokal, akademisi, dan pegiat lingkungan. Gerakan penanaman pohon asli Megamendung menjadi salah satu upaya konkret. Sejak berdiri, sudah lebih dari 21.800 pohon lokal ditanam pada area-area kritis untuk menghidupkan kembali fungsi ekologi hutan.
Tak hanya upaya pelestarian di dalam habitat aslinya, Paseban Foundation juga mengembangkan program konservasi di luar habitat (ex-situ) sebagai pelengkap perlindungan alami. Hal ini sudah membuahkan hasil, di mana lahirnya tiga anak rusa dari unit penangkaran yayasan diharapkan dapat memperkaya populasi alami jika kelak dilepasliarkan kembali ke Megamendung.
Sebelum pelepasan satwa hasil penangkaran, tahapan rehabilitasi, penyesuaian naluri alami, serta pemeriksaan habitat sangat diperlukan untuk memastikan satwa tidak hanya bertahan, tapi mampu membangun populasi yang sehat dan tidak mengganggu ekosistem yang ada.
Pemulihan ekologis di Megamendung adalah tantangan jangka panjang yang tidak akan selesai dalam sepuluh atau dua puluh tahun. Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, meletakkan dasar pemikiran ini ke dalam Megamendung Century Initiative, yakni strategi pemulihan hingga ratusan tahun ke depan agar kawasan ini mengembalikan fungsi alaminya secara bertahap. Tujuannya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membangun kembali sistem pendukung kehidupan: menjaga kelestarian habitat, memperbaiki rantai satwa, memperkuat cadangan air, hingga menciptakan harmoni dengan warga setempat.
Andy menekankan, upaya konservasi harus diwariskan lintas generasi. Kerja keras menjaga kelestarian alam membutuhkan ketangguhan komitmen dan kaderisasi penerus di masa depan. Pelestarian tidak boleh berhenti hanya pada satu generasi saja, melainkan menjadi estafet yang terus dijalankan oleh generasi berikutnya demi keberlanjutan kehidupan di tanah Jawa.
Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor


