Saturday, September 12, 2026
HomeBeritaStrategi Hilirisasi Perkebunan Kopi di Banjar: Meracik Masa Depan

Strategi Hilirisasi Perkebunan Kopi di Banjar: Meracik Masa Depan

Jejak Sejarah Kopi Tanah Banjar

Perjalanan sejarah kopi di Tanah Banjar, Kalimantan Selatan, memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan sentra kopi besar di Pulau Sumatra atau Jawa, kopi di Tanah Banjar tumbuh dari tradisi perkebunan rakyat dan pengaruh jalur perdagangan kolonial.

Kalsel, yang dikenal bergantung pada sektor pertambangan dan kelapa sawit, kini beralih ke sektor perkebunan dengan fokus pada kopinya. Program BANGKODIN dari Dinas Perkebunan Kalsel menargetkan meningkatkan kopinya menjadi produk industri dengan daya saing global.

Data Statistik Perkebunan Kopi di Kalsel

Luasan perkebunan kopi rakyat di Kalsel berkisar 2.231-2.928 hektar, dengan produksi biji kering mencapai 884-1.204 ton per tahun. Meski masih kecil dibanding provinsi kopi lain, kopi Tanah Banjar memiliki potensi unik.

Sentra Utama Kopi di Kalsel

  • Kabupaten Banjar: 678 hektar.
  • Kabupaten Balangan: 526 hektar.
  • Kabupaten HST: 319 hektar.
  • Kabupaten Tabalong: 277 hektar.
  • Kabupaten Tapin dan Barito Kuala: pengembangan potensial termasuk kopi Liberika di lahan gambut dan rawa.

Hilirisasi Kopi Banjar

Seiring arah menuju ekonomi hijau, Kalsel mendorong hilirisasi kopi untuk meningkatkan nilai tambah. Suparmi, Kepala Disbunnak Kalsel, menegaskan pentingnya integrasi bisnis kopi dari hulu hingga hilir. Hal ini melibatkan korporasi petani, diversifikasi produk, restorasi lahan, dan standar mutu pengolahan kopi.

Hilirisasi kopi di Banua juga memunculkan sosok seperti Muhamad Khalid Abdullah yang menjelma menjadi pelopor melalui brand Herborneo. Melalui inisiatifnya, Khalid tidak hanya menjual kopi tetapi juga membangun ekosistem bagi petani lokal.

Dengan upaya hilirisasi dan peningkatan kualitas, kopi Kalimantan Selatan berpotensi untuk naik kelas dan mencuri perhatian pasar global.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler