Saturday, October 17, 2026
HomeLainnyaTNI Dapat Membantu Menjaga Fungsi Negara saat Infrastruktur Strategis Terganggu

TNI Dapat Membantu Menjaga Fungsi Negara saat Infrastruktur Strategis Terganggu

Dalam dunia yang semakin terhubung, risiko dari lalu lintas barang, informasi, dan uang antarnegara tidak bisa dipandang remeh. Farrell dan Newman (2019) telah menyoroti bagaimana aliran tersebut membawa peluang sekaligus ancaman baru bagi kedaulatan negara. Dua perang besar, yaitu konflik di Ukraina dan Iran, menjadi contoh nyata bagaimana kejadian di satu wilayah dapat berdampak secara global, bahkan untuk negara yang tampak tidak terlibat secara langsung.

Perang Ukraina memunculkan gangguan serius pada distribusi pangan dunia. Sebelum terjadi perang, pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam di Ukraina menjadi jalur utama pengiriman bahan pangan, namun disrupsi transportasi akibat perang menjadikan banyak negara harus berjuang mencari sumber alternatif yang belum tentu mencukupi. Bahkan diversifikasi jalur lewat darat atau sungai hanya dapat menambal sebagian kebutuhan ekspor utama Ukraina (EPRS, 2022). Pada sisi lain, Perang Iran memperlihatkan risiko berbeda pada pasokan energi global. Hanya dengan serangan terbatas terhadap beberapa kapal dan ancaman berupa ranjau, rudal, hingga drone, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menurun drastis. Sekitar 20 juta barel per hari yang biasa melewati jalur ini menyusut menjadi 2,7 juta barel per hari antara Maret dan Mei 2026 (International Energy Agency, 2026). Efeknya terasa di seluruh dunia, mendorong naik harga energi dan menimbulkan kekhawatiran bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Yang menarik, gangguan tersebut tidak selalu harus berupa penutupan total sebuah rute atau pelabuhan. Cukup membuat risiko terlalu tinggi bagi operator niaga, maka keputusan untuk menunda perjalanan berdampak besar secara strategis. Farrell dan Newman (2019) menggambarkan situasi ini sebagai “chokepoint effect” atau efek titik cekik, yaitu ketika akses ke simpul penting dalam jaringan ekonomi sulit digantikan. Konsep ini tidak hanya berlaku untuk infrastruktur fisik seperti pelabuhan dan selat, tetapi juga untuk jaringan keuangan, sistem pembayaran, teknologi, dan bahkan asuransi (Fishman, 2025). Dalam perang masa kini, berbagai instrumen bisa digunakan untuk memutus rantai pasok: sanksi ekonomi, pemutusan akses teknologi, bahkan sabotase jalur distribusi digital.

Perubahan besar dalam peperangan global ini tidak mengubah hakekat perang itu sendiri sebagai alat politik, sesuai pemikiran Clausewitz, melainkan memperluas bentuk dan jangkauannya. Negara-negara yang tidak terlibat langsung pun tetap rentan menerima dampak negatif, seperti krisis pangan akibat disrupsi pelabuhan Laut Hitam atau melonjaknya harga BBM lantaran gangguan di Timur Tengah. Indonesia, misalnya, walau jauh dari pusat konflik, tetap harus waspada karena berbagai fungsi penting pertahanannya—dari pasokan energi, satelit, pangan, hingga jaringan komunikasi—dapat terganggu oleh perang di tempat lain.

Oleh sebab itu, perencanaan pertahanan modern tidak lagi cukup hanya memperhitungkan kekuatan militer lawan. Indonesia perlu membangun strategi dengan memperhatikan simpul-simpul vital dalam ekonominya, baik fisik maupun digital, yang jika terganggu akan sangat melemahkan ketahanannya. Tidak semua fungsi perlu dikelola oleh militer, namun identifikasi fungsi-fungsi kritis, pembuatan cadangan, jalur alternatif, serta upaya pemulihan cepat menjadi krusial. Ketahanan negara kini bergantung pada seberapa sigap dapat merespon ketika salah satu simpul terputus akibat krisis global.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, titik rentan bukan hanya berada di selat atau alur pelayaran, namun juga di pelabuhan, stasiun energi, gudang pangan, kabel bawah laut, sistem pembayaran, hingga infrastruktur digital yang saling terkait. Dari pelajaran Ukraina dan Iran, kita tahu bahwa saling ketergantungan tak bisa dihindari, tapi negara harus mampu mengelola risiko di setiap titik vital tersebut. Jangan sampai ketika salah satu simpul gagal, negara lumpuh karena kurangnya persiapan fungsional dan cadangan.

Kesadaran akan pentingnya diversifikasi fungsi dan kesiapan terhadap risiko global perlu menyebar hingga ke masyarakat. Bayangkan jika satu sumber belajar utama di pelosok terputus; masa depan generasi berikutnya pun bisa terhambat. Oleh sebab itu, membangun cadangan dan jalur alternatif—baik dalam pertahanan, ekonomi, maupun pendidikan—menjadi investasi penting bagi daya tahan Indonesia ke depan.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas

RELATED ARTICLES

Terpopuler