Foto dan video yang dibuat atau diubah dengan kecerdasan buatan (AI) kini semakin menyerupai kenyataan. Wajah, suara, latar tempat, gerakan, hingga situasi tertentu dapat direkayasa sehingga masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan apa yang terlihat di layar untuk menilai kebenaran sebuah konten.
Pemeriksaan perlu dilakukan terutama ketika foto atau video digunakan untuk menjelaskan peristiwa yang sedang berlangsung. Konten yang tampak nyata belum tentu merekam kejadian sebenarnya, sementara konten yang benar-benar diambil dengan kamera pun dapat disertai keterangan atau konteks yang menyesatkan.
Telusuri sumber dan konteksnya
Langkah awal dapat dimulai dengan memperhatikan detail visual yang janggal. Bentuk tangan dan jari, tulisan, pantulan, bayangan, ekspresi wajah, serta gerakan bibir kadang memperlihatkan tanda-tanda hasil rekayasa AI. Namun, petunjuk semacam itu semakin sulit dikenali seiring meningkatnya kualitas teknologi generatif. Karena itu, tampilan yang realistis tidak bisa menjadi bukti tunggal bahwa suatu foto atau video benar-benar asli.
Asal-usul konten juga perlu diperiksa. Cari tahu siapa yang pertama kali mengunggahnya, kapan unggahan dibuat, serta apakah keterangan yang menyertai sesuai dengan peristiwa yang diklaim. Jika video disebut memperlihatkan kejadian besar, bandingkan dengan pemberitaan media tepercaya atau konfirmasi dari lembaga resmi. Konten yang hanya beredar dari akun anonim tanpa sumber jelas sebaiknya tidak langsung dipercaya.
Untuk foto yang mencurigakan, pencarian gambar terbalik dapat membantu menemukan apakah gambar tersebut pernah muncul sebelumnya. Cara ini bisa mengungkap penggunaan ulang foto lama dengan keterangan berbeda. Meski demikian, tidak ditemukannya gambar serupa bukan berarti foto itu pasti asli karena konten baru atau yang belum banyak beredar mungkin belum tercatat dalam hasil pencarian.
Periksa pula tanggal, lokasi, serta peristiwa yang berkaitan dengan foto. Gambar bencana, misalnya, bisa saja benar-benar berasal dari kamera, tetapi diambil dari kejadian beberapa tahun lalu dan kemudian disebut sebagai peristiwa terbaru. Dalam kondisi tersebut, masalahnya bukan keaslian visual, melainkan konteks yang keliru.
Gunakan jejak digital secara hati-hati
Metadata dapat memberikan informasi mengenai perangkat yang digunakan, waktu pembuatan, dan aspek teknis lain dalam sebuah file. Data ini berguna sebagai petunjuk, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar penilaian. Metadata dapat hilang atau berubah ketika file diproses dan dibagikan melalui platform tertentu. Riwayat publikasi serta perubahan pada konten juga perlu ditelusuri.
Salah satu teknologi yang dikembangkan untuk membantu penelusuran asal-usul konten adalah Content Credentials. Fitur ini mencatat secara digital proses pembuatan dan perubahan sebuah foto atau video, termasuk apakah konten dibuat dengan kamera, diedit menggunakan perangkat tertentu, atau melibatkan AI. Namun, belum semua konten memiliki fitur tersebut. Ketiadaan Content Credentials tidak otomatis berarti konten itu palsu.
Sejumlah perusahaan juga memakai watermark digital. Google, misalnya, menggunakan SynthID untuk menyisipkan tanda yang tidak terlihat mata pada sejumlah konten berbasis AI. Tanda tersebut dapat membantu verifikasi, dan pada 2026 teknologinya telah diperluas untuk mendukung pemeriksaan gambar serta video melalui layanan tertentu. Sebaliknya, tidak adanya watermark juga bukan bukti bahwa sebuah konten merupakan rekaman asli.
Jangan menjadikan AI detector sebagai putusan akhir
Alat pendeteksi AI dapat membantu, tetapi hasilnya tidak mutlak. Teknologi tersebut memiliki keterbatasan dan harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan AI generatif. Sebuah foto juga bisa merupakan gabungan gambar asli dan hasil penyuntingan, seperti penggantian latar, penghapusan objek, atau penambahan elemen tertentu. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya apakah konten itu dibuat AI, melainkan apakah telah diubah dan sejauh mana perubahan dilakukan.
Video yang menampilkan tokoh publik perlu diperiksa lebih ketat, khususnya jika berisi pernyataan kontroversial, promosi investasi, permintaan uang, atau ajakan tertentu. Deepfake dapat membuat seseorang seolah-olah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah disampaikannya. Periksa akun resmi tokoh terkait atau sumber tepercaya sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Jika menemukan konten yang mencurigakan, tahan diri untuk tidak langsung membagikannya. Telusuri sumber awal, bandingkan dengan laporan lain, cek konteks, dan gunakan perangkat verifikasi yang tersedia. Kebiasaan ini penting ketika konten berpotensi memicu kepanikan, merusak reputasi, atau dimanfaatkan untuk penipuan.


