Bursa kripto Bitget menyelidiki pelanggaran keamanan yang memengaruhi aset digital dengan estimasi nilai hingga US$351,6 juta atau sekitar Rp6,29 triliun. Dugaan awal mengarah pada kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara, meski penyelidikan teknis untuk memastikan metode dan pelaku serangan masih berlangsung.
CEO Bitget Gracy Chen mengatakan, tim penyelidik menemukan alamat protokol internet (IP) yang terhubung dengan layanan virtual private network (VPN) yang sebelumnya digunakan kelompok peretas Korea Utara. Pola serangan tersebut juga dinilai memiliki kemiripan dengan operasi siber yang pernah dikaitkan dengan negara itu.
Transfer tidak sah melibatkan hot wallet dan warm wallet
Bitget mendeteksi aktivitas transfer yang tidak sah pada Kamis sore waktu Amerika Serikat. Menurut Chen, terdapat 19 transfer dari bagian infrastruktur hot wallet dan warm wallet milik bursa. Sementara itu, cold wallet Bitget disebut tetap aman.
Aset yang terdampak mencakup Ether, XRP, USDT, USDC, Avalanche, dan BNB. Pergerakan aset tersebut berlangsung di sejumlah jaringan blockchain, yakni Ethereum, XRP Ledger, Avalanche, BNB Smart Chain, dan Arbitrum.
Data awal berbasis aktivitas on-chain memperkirakan nilai aset yang keluar sekitar US$183 juta atau Rp3,27 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp17.890. Namun, Bitget menyatakan angka tersebut belum mencakup aktivitas pada seluruh jaringan blockchain yang terdampak. Karena itu, estimasi nilai keseluruhan dalam penyelidikan mencapai US$351,6 juta.
Sistem backend dompet dimanipulasi
Tim keamanan Bitget menemukan bahwa penyerang berhasil menembus sistem backend yang berperan penting dalam pengelolaan dompet. Sistem tersebut kemudian digunakan untuk memanipulasi informasi transfer dan memicu proses penandatanganan otorisasi Bitget.
Chen mengatakan, pelanggaran telah berhasil diatasi sehingga tidak ada lagi aset yang keluar secara tidak sah melalui celah tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa kemungkinan kompromi terhadap kunci privat telah dikesampingkan.
“Kemungkinan adanya kompromi pada kunci privat (private key) telah dikesampingkan,” ujar Chen, seperti dikutip CNBC, Jumat (25/9/2026).
Meski demikian, Bitget masih menelusuri metode intrusi yang digunakan untuk menyusup ke sistemnya. Penyelidikan itu juga diperlukan untuk memeriksa seluruh aktivitas pada jaringan yang terdampak dan menyempurnakan penghitungan nilai aset dalam insiden tersebut.
“Pola serangan itu juga menyerupai operasi sebelumnya yang dikaitkan dengan negara itu,” kata Chen. Atribusi terhadap kelompok peretas Korea Utara tersebut masih didasarkan pada bukti awal, termasuk temuan terkait penggunaan alamat IP dan kemiripan pola operasi.


