Pada perdagangan saham Rabu (28/1/2026), laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kecenderungan berada di zona merah. Hal ini terjadi setelah pengumuman MSCI mengenai rencana membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks saham. Data dari RTI menunjukkan bahwa IHSG hari ini mengalami penurunan sebesar 7,35% dan ditutup pada level 8.320,55. Begitu pula dengan indeks saham LQ45 yang terpangkas sebesar 7,26% ke posisi 812,53, sementara seluruh indeks saham acuan juga mengalami tekanan.
Reydi Octa, seorang pengamat pasar modal, mengungkapkan bahwa tekanan jual terus berlanjut sejak sesi pertama, dipicu oleh reaksi panic selling setelah pengumuman MSCI yang akan membekukan pembobotan dan rebalancing dari saham Indonesia. Namun, Reydi berpendapat bahwa dampak dari keputusan MSCI ini mungkin hanya bersifat jangka pendek dan bahkan dapat menahan outflow dari dana asing di IHSG.
Dalam menghadapi kondisi IHSG yang melemah akibat pengumuman MSCI, Reydi menyarankan kepada para investor untuk bersikap wait and see sambil melakukan akumulasi saham secara bertahap ketika IHSG tertekan hingga trading halt, seiring dengan peluang kenaikan yang terbuka. Meskipun demikian, peluang rebound tetap merupakan suatu kemungkinan yang terbuka.
Pada perdagangan saham Rabu, IHSG bergerak di kisaran level tertinggi 8.596,17 dan level terendah 8.187,73. Sebanyak 753 saham mengalami pelemahan yang membayangi IHSG, sementara 37 saham menguat dan 16 saham stagnan. Transaksi saham mencapai frekuensi mencapai 3.990.870 kali dengan volume perdagangan mencapai 60,9 miliar saham dan nilai transaksi harian mencapai Rp 45,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah terpantau berada di kisaran 16.704.
Secara keseluruhan, seluruh sektor saham terpantau mengalami tekanan. Sektor infrastruktur mencatat koreksi terbesar dengan penurunan 10,15%, disusul oleh sektor energi dengan penurunan 8,99%, dan sektor basic dengan penurunan 6,3%. Sementara itu, sektor industri, consumer nonsiklikal, siklikal, kesehatan, keuangan, properti, teknologi, dan transportasi juga mengalami pelemahan masing-masing dalam rentang angka yang berbeda.


