Dalam sebuah laporan dari analis Mizuho, disebutkan bahwa Mastercard memiliki potensi untuk menjadi “penghubung jaringan” antara dunia fiat dan kripto setelah melakukan akuisisi terhadap startup stablecoin BVNK. Menurut analis, stablecoin bisa menjadi akselerator bagi jaringan yang sudah ada, bukan ancaman bagi bisnis kartu pembayaran. Jadi, dengan adanya akselerasi ini, proses lintas batas dan B2B akan menjadi lebih cepat dan efisien, sementara kartu pembayaran tetap menjadi solusi yang lebih unggul bagi konsumen.
Pentingnya ini karena sektor pembayaran lintas batas B2B, pengiriman uang, dan ekonomi kreator serta pekerja lepas di luar kendali tradisional Mastercard, di mana penetrasi kartu masih terbatas. Dalam konteks ini, Mastercard sepakat untuk mengakuisisi BVNK dengan nilai hingga USD 1,8 miliar atau setara Rp 30,47 triliun. Langkah ini datang di tengah meningkatnya operasi stablecoin di Amerika Serikat dan persetujuan federal untuk beberapa perusahaan stablecoin di bawah pemerintahan Trump yang lebih terbuka.
Dengan akuisisi BVNK, Mastercard akan memperluas perannya sebagai “penghubung jaringan,” kali ini dengan fokus pada konversi stablecoin ke fiat. Mastercard sebagai jaringan kartu terbesar kedua di dunia, sedangkan fiat merupakan mata uang resmi yang diterbitkan pemerintah. Ini menandai langkah strategis Mastercard dalam memposisikan diri di tengah pesatnya perkembangan dunia kripto dan stablecoin.


