Inflasi dan Geopolitik: Dampaknya Terhadap Pasar Kripto
Faktor geopolitik dan inflasi memiliki pengaruh besar terhadap pasar kripto saat ini. Data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan lonjakan inflasi yang terkait dengan konflik perang, menimbulkan tekanan tambahan. Hal ini berdampak pada ekspektasi pemotongan suku bunga pada tahun 2026, yang semakin berkurang. Belum jelasnya sikap kebijakan moneter Federal Reserve menjadi topik perdebatan hangat.
Berdasarkan informasi dari CME Group melalui FedWatch Tool, kemungkinan suku bunga tetap stabil dalam kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan mendatang sangat tinggi, mencapai lebih dari 98%. Sementara peluang pemangkasan suku bunga pada bulan Juli hanya sekitar 33,6%, menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat mungkin akan berlanjut dalam jangka waktu yang lebih lama.
Bagi para investor kripto, situasi ini menciptakan dilema tersendiri. Harapan akan adanya pelonggaran kebijakan di masa depan bertabrakan dengan tekanan inflasi yang masih tinggi serta risiko geopolitik yang belum mereda. Pasar akan terus memperhatikan beberapa indikator penting seperti pergerakan harga minyak global, data ekonomi terkini, perkembangan konflik geopolitik, dan arah kebijakan bank sentral.
Dalam skenario ketika ketegangan geopolitik mereda dan inflasi cenderung turun, Bitcoin berpotensi untuk melanjutkan kenaikan harga. Namun, jika risiko global terus meningkat, maka kemungkinan reli Bitcoin akan terhambat. Pergerakan Bitcoin saat ini masih berada dalam fase ketidakpastian, di antara potensi rebound lanjutan atau penurunan kembali akibat tekanan global.


