Pada Kamis, 23 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga penutupan sesi perdagangan saham pertama. Koreksi ini terjadi seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai 17.300, serta mayoritas sektor saham mengalami penurunan. Data dari RTI menunjukkan bahwa IHSG hari ini ditutup turun 1,27% menjadi 7.445,96, sedangkan Indeks saham LQ45 merosot 1,5% menjadi 724,95.
Selama sesi perdagangan pertama, IHSG bergerak dalam kisaran antara 7.582,50 dan 7.422,48. Penurunan IHSG dipengaruhi oleh 445 saham yang melemah, sementara 227 saham menguat dan 145 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan saham mencapai 1.895.485 kali dengan volume perdagangan mencapai 32,4 miliar saham, dan nilai transaksi harian mencapai Rp 11,7 triliun.
Analis dari PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut bahwa koreksi IHSG sejalan dengan penurunan mayoritas bursa saham di Asia. Hal ini terjadi karena kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah, ditambah dengan Iran yang menyita dua kapal komersial di Selat Hormuz. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah menjadi 17.300.
Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa penguatan harga minyak dunia berdampak pada pelemahan rupiah. Meskipun Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, hal ini belum cukup untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Liza menegaskan bahwa BI perlu berperan lebih aktif dan agresif sebagai penyedia likuiditas dalam mata uang dolar Amerika Serikat.


