Nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” digelar di sekretariat Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin pada Jumat malam. Film dokumenter ini mengisahkan perjuangan masyarakat Papua Selatan melawan Proyek Strategis Nasional (PSN) biodiesel sawit dan biodiesel tebu, menyoroti dampak eksploitasi tanah dan hutan terhadap ruang hidup masyarakat adat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu. Direktur LK3 Banjarmasin, Dani, menjelaskan bahwa kegiatan nobar dan diskusi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap kawan-kawan Papua yang sedang terjajah oleh bangsa sendiri, sekaligus untuk memperingati Hari Bumi. Dia juga menyoroti berbagai permasalahan lingkungan, baik di Papua maupun di wilayah Kalsel yang sedang dipertaruhkan.
Sementara itu, perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) Kalsel, Rikardo, menilai bahwa film tersebut memberikan wawasan baru tentang kondisi Papua yang belum banyak diketahui orang. Dia menekankan pentingnya film ini sebagai motivasi untuk belajar dan memahami kondisi Papua secara lebih mendalam. Soraya, perwakilan dari Equal Institute, menyampaikan bahwa film tersebut menggambarkan ketimpangan sosial dan perjuangan lingkungan yang dihadapi masyarakat Papua, serta mengajak pemerintah untuk lebih memperhatikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat lokal.
Selain itu, Kepala Divisi Advokasi, Kampanye, Pendidikan, dan Pengkaderan Walhi Kalsel, Cecep, menyoroti kesamaan kerusakan lingkungan antara Papua dan Kalsel akibat kebijakan pembangunan yang tidak mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Dia juga menyinggung tantangan dalam penetapan hutan adat di Kalsel, yang masih dipengaruhi oleh kepentingan politis dan investasi. Hal ini menjadi sorotan penting dalam menanggapi ancaman perampasan ruang hidup masyarakat adat, seperti dalam wacana pembentukan Taman Nasional Meratus.
Film “Pesta Babi” memberikan gambaran bahwa Papua bukan tanah kosong dan negara harus menghormati hak masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan sebagai sumber kehidupan. Seluruh narasi dari diskusi nobar tersebut menjadi panggilan untuk lebih memperhatikan isu lingkungan, sosial, dan keadilan di Papua serta wilayah-wilayah lainnya.


