IHSG Melonjak pada Sesi Perdagangan Jumat
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan pada sesi kedua perdagangan saham Jumat, 17 Juli 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sektor saham keuangan menjadi penopang utama.
Penguatan IHSG dan Faktor Pendukung
Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup naik 1,1% menjadi 6.175,53, sementara indeks saham LQ45 melonjak 2,19%. Indeks saham acuan mayoritas bergerak positif dan telah mengalami kenaikan selama lima hari berturut-turut.
Faktor Pendorong Penguatan IHSG
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa penguatan IHSG dipicu oleh faktor-faktor seperti nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang menguntungkan dan pelemahan harga komoditas emas. Emiten perbankan serta beberapa emiten besar lainnya seperti TLKM dan ASII turut mendorong kenaikan IHSG.
Terkait penguatan nilai tukar rupiah, Herditya mengemukakan bahwa ini didorong oleh aliran masuk ke pasar obligasi dan pelemahan indeks dolar AS. Di samping itu, penguatan rupiah juga disebabkan oleh pertumbuhan investasi di Indonesia sebesar 7,2% YoY.
Pergerakan Sektor Saham
Sebelum libur akhir pekan, IHSG berada di level tertinggi 6.192,65 dan level terendah 6.079,31. Dari 349 saham yang mengalami kenaikan, IHSG berhasil terdongkrak. Sementara itu, terdapat 261 saham yang turun dan 187 saham stagnan.
Total frekuensi perdagangan saham mencapai 2.024.037 kali dengan volume perdagangan sebanyak 29,1 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 16,3 triliun. Posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.915.
Mayoritas sektor saham mengalami kenaikan, dengan sektor keuangan menjadi yang tertinggi melonjak sebesar 2,34%. Sektor consumer nonsiklikal naik 0,27%, consumer siklikal bertambah 0,80%, dan sektor kesehatan melonjak 0,67%.
Sementara sektor properti naik 0,38%, infrastruktur bertambah 0,26%, dan sektor transportasi menguat 0,11%. Namun, sektor energi turun 0,11%, sektor basic merosot 0,50%, sektor industri terpangkas 0,45%, dan sektor teknologi tergelincir 0,25%.


