PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Mencatat Penurunan Pendapatan dan Laba
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) telah mencatat penurunan pendapatan dan laba hingga kuartal pertama 2026 menurut laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada kuartal pertama 2026, pendapatan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 7,6% menjadi USD 821,65 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 890,14 juta.
Penurunan Laba dan Beban Perseroan
Beban pokok pendapatan perseroan juga mengalami penurunan sebesar 3,5% dari USD 574,90 juta pada kuartal pertama tahun sebelumnya menjadi USD 554,58 juta pada kuartal pertama 2026.
Laba bruto PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 15,28% dari USD 315,24 juta pada kuartal pertama 2025 menjadi USD 267,06 juta pada kuartal pertama 2026.
Sementara itu, beban penjualan perseroan turun menjadi USD 9,77 juta pada kuartal pertama 2026 dari USD 10,51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan beban umum dan administrasi naik menjadi USD 12,99 juta pada kuartal pertama 2026 dari USD 11,03 juta pada kuartal pertama 2025.
Di sisi lain, beban keuangan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami penurunan menjadi USD 1,18 juta pada kuartal pertama 2026 dari USD 4,62 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan Laba Bersih dan Ekuitas Perseroan
Laba periode berjalan yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 12,44% menjadi USD 190,79 juta pada kuartal pertama 2026 dari USD 217,91 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih per saham yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dasar dan dilusi juga mengalami penurunan menjadi USD 0,006 pada kuartal pertama 2026 dari USD 0,007 pada kuartal pertama 2025.
Ekuitas perseroan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik menjadi USD 2,89 miliar hingga Maret 2026 dari USD 2,69 miliar pada Desember 2025. Sementara liabilitas perseroan turun menjadi USD 617,20 juta hingga Maret 2026 dari USD 680,46 juta pada Desember 2025. Aset perseroan juga mengalami kenaikan menjadi USD 3,50 miliar dari USD 3,37 miliar pada Desember 2025.


