ETF Leverage Meledak di Korea Selatan
Exchange-traded funds (ETF) dengan leverage menjadi sangat populer di Korea Selatan, meskipun tingginya tingkat risiko yang terkait dengannya. Para pelaku pasar di negara tersebut memanfaatkan derivatif dan utang untuk meningkatkan pengembalian harian dari indeks maupun aset yang mendasarinya, biasanya dengan faktor dua.
Di sebagian besar dunia, ETF pada umumnya lebih disukai oleh pelaku pasar dan investor. Namun, di Korea Selatan, ETF dengan leverage ini justru aktif digunakan oleh para individu untuk menginvestasikan tabungan mereka. Banyak di antara individu ini tidak memiliki pelatihan formal di bidang keuangan.
Sejarah dan Pengaruh ETF di Korea Selatan
Keberadaan ETF leverage di Korea Selatan bermula pada tahun 2010 ketika Samsung Asset Management merilis KODEX Leverage, sebuah produk yang melacak KOSPI 200. Produk ini dianggap sebagai ETF leverage pertama di Asia dan sejak itu menjadi populer di Korea Selatan.
Selama lebih dari satu dekade, pasar ETF leverage di negara ini masih didominasi oleh indeks. Namun, regulator keuangan Korea Selatan mulai menyadari risiko yang terkait dengan penggunaan ETF leverage ketika permintaan dari investor lokal terhadap produk asing semakin tinggi pada tahun 2025.
Pada tahun 2026, regulator mengizinkan peluncuran lebih dari dua belas produk ETF leverage yang melacak saham Samsung dan SK Hynix, dengan mayoritas dipegang oleh investor ritel. Namun, kekhawatiran akan dampak destabilisasi semakin meningkat, terutama setelah ETF tersebut menyumbang lebih dari 70% nilai perdagangan harian di pasar senilai US$ 4 triliun atau sekitar Rp 71.560 triliun.
Pada 16 Juli, pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa pencatatan produk leverage yang melacak saham tunggal akan dihentikan sementara. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar dan mengurangi risiko yang terkait dengan penggunaan ETF leverage di negara tersebut.


