Sambaran petir tidak selalu berakhir dengan kematian. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat hampir 90 persen korban sambaran petir dapat bertahan hidup. Meski demikian, sekitar 10 persen korban meninggal dunia, dengan henti jantung sebagai salah satu penyebab kematian yang paling umum.
Karena itu, korban sambaran petir harus diperlakukan sebagai pasien gawat darurat. Peluang selamat sangat dipengaruhi oleh kecepatan pertolongan, terutama ketika sambaran mengganggu kerja jantung.
Mengapa korban bisa selamat?
Energi petir tidak selalu mengalir sepenuhnya melalui tubuh seseorang. Menurut CDC, cedera dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain sambaran langsung, aliran listrik dari benda yang terkena petir, lompatan arus dari objek di sekitar korban atau side flash, serta arus yang menyebar melalui permukaan tanah.
Pada kondisi tertentu, sebagian arus juga dapat mengalir di permukaan tubuh. Perbedaan mekanisme ini membuat tingkat cedera korban beragam. Ada yang mengalami henti jantung, luka bakar, gangguan saraf, atau kehilangan kesadaran. Sebagian lainnya mengalami cedera lebih ringan dan dapat pulih setelah memperoleh perawatan.
Jantung menjadi salah satu organ paling kritis karena sambaran petir dapat mengganggu sistem kelistrikannya. Korban bisa mengalami henti jantung maupun gangguan irama jantung. Ketika kondisi tersebut terjadi, pertolongan dalam hitungan menit sangat menentukan.
Kasus penyintas juga pernah terjadi di Indonesia. Pada Januari 2010, sebanyak 14 orang yang mengikuti kegiatan perkemahan di Tasikmalaya, Jawa Barat, tersambar petir. Sebanyak 12 orang diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan, sedangkan dua lainnya masih dirawat di RSUD Tasikmalaya karena kondisinya lemah dan petir diduga memengaruhi kerja jantung.
Pada 2020, dua warga di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga tersambar petir ketika sedang berteduh. Petir menyambar bagian atas sebuah alat berat sebelum mengenai keduanya. Mereka sempat tidak sadarkan diri dan kemudian dibawa ke RSUD Larantuka. Setelah mendapat perawatan, keduanya dilaporkan selamat.
Langkah pertolongan yang tepat
Orang yang hendak menolong harus memastikan lokasi sudah aman dari kemungkinan sambaran berikutnya. Korban petir tidak menyimpan listrik di dalam tubuh sehingga aman disentuh setelah berada di tempat yang aman.
Segera panggil bantuan medis dan periksa apakah korban bernapas. Jika korban tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) secepatnya. Alat kejut jantung otomatis atau AED juga dapat digunakan apabila tersedia dan penolong mampu mengoperasikannya.
Jika korban masih bernapas, periksa kemungkinan luka bakar, cedera kepala, patah tulang, atau luka lain akibat terjatuh maupun terlempar. Tindakan seperti menimbun korban dengan tanah tidak terbukti secara medis dan justru dapat menghilangkan waktu yang diperlukan untuk pertolongan darurat.
Dampak dapat berlanjut setelah korban selamat
Keselamatan dari sambaran petir tidak selalu berarti korban terbebas dari dampak jangka panjang. National Weather Service menjelaskan, cedera akibat petir kerap melibatkan sistem saraf. Penyintas dapat mengalami sakit kepala, pusing, gangguan keseimbangan, kebingungan, masalah ingatan, dan kesulitan berkonsentrasi.
Petir juga dapat menyebabkan luka bakar, cedera otot, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, serta cedera akibat jatuh atau terlempar. Dalam kasus ekstrem, Roy C. Sullivan, mantan penjaga taman nasional di Virginia, Amerika Serikat, tercatat Guinness World Records sebagai orang yang selamat dari tujuh sambaran petir. Sambaran terakhir terjadi pada 1977 ketika ia sedang memancing. Kisah itu menegaskan bahwa korban memang bisa bertahan hidup, tetapi risiko cedera serius dan kematian tetap nyata.


